Selasa, 31 Mei 2011

perbankan syariah


"Perkembangan perbankan syariah dalam lima tahun terakhir sangatlah menggembirakan. Kami optimis pertumbuhan ini akan terus berlanjut seiring dengan semakin bertambahnya jumlah bank syariah. Untuk tahun 2011, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan syariah diperkirakan akan melebihi tahun 2010, terlebih jika perbankan syariah mampu memanfaatkan momentum capital inflow. Sementara kondisi fundamental ekonomi tahun 2011 yang semakin kokoh, proses pemulihan ekonomi global yang semakin menguat, dan dukungan aturan perpajakan yang lebih kondusif akan mendorong kinerja pembiayaan perbankan syariah." Demikian dikatakan Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah, saat membuka Seminar Akhir Tahun Tentang Outlook Perbankan Syariah 2011 di Koperbi Jakarta, 24 November 2010. Seminar yang mengangkat tema "Kesiapan Bank Syariah Menangkap Peluang Ekspansi 2011" ini dihadiri oleh kalangan perbankan, instansi Pemerintah, KADIN, Asosiasi Usaha, dan para akademisi.
Selama 5 tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan total aset perbankan syariah mencapai 33% per tahun. Sampai dengan akhir Oktober 2010, total aset perbankan syariah telah mencapai Rp.86 triliun. Secara kelembagaan, saat ini jumlah bank syariah telah mencapai 11 BUS, 23 UUS, dan 146 BPRS dengan jaringan kantor sebanyak 1.625 kantor pada akhir September 2010. Secara geografis, sebaran jaringan kantor perbankan syariah saat ini telah menjangkau masyarakat dilebih dari 89 kabupaten/kota di 33 propinsi.
Agar dapat menangkap peluang tahun 2011 yang cukup prospektif, Halim mengatakan bahwa pengembangan jangka menengah industri perbankan syariah secara umum diarahkan pada penguasaan pasar domestik dengan kualitas pelayanan berstandar internasional.

Konsolidasi Perbankan Swasta dan Bank BUMN


Dalam dua minggu terakhir berita tentang konsolidasi perbankan ramai di media nasional. Ada berita Bank Internasional Indonesia sedang mengevaluasi kemungkinan merger dengan Bank Danamon. Selanjutnya berita manajemen Bank Niaga belum menentukan sikap tentang merger dengan Bank Lippo. Yang paling hangat adalah berita pada minggu terakhir September, bahwa Bank Mandiri siap menjadi konsolidator bank BUMN, dan berita tentang sedang dikaji apakah Bank Rakyat Indonesia atau Bank Negara Indonesia yang akan mengakuisisi Bank Tabungan Negara (BTN).
Selain berita tentang kemungkinan merger atau akuisisi di antara bank-bank besar, kita juga mendengar beberapa bulan terakhir adanya akuisisi atau merger bank-bank kecil. Ada gabungan beberapa bank kecil yang ingin melakukan merger. Ada bank kecil yang diakuisisi oleh bank besar untuk dikonversi menjadi bank syariah. Ada bank-bank kecil yang diakuisisi oleh bank asing. Misalnya, bank dari Belanda (Rabo Bank) membeli Bank Haga, bank dari China (ICBC Bank) membeli Bank Halim, bank dari Jepang membeli Bank Nusantara Parahyangan, bank dari India membeli Bank Swadesi.
Tak usah heran, berita-berita tersebut akan menjadi semakin hangat karena ada tiga hal yang diminta Bank Indonesia untuk diselesaikan perbankan sampai akhir tahun 2007.
Pertama, BI mengharuskan semua bank kecil memenuhi persyaratan modal minimum Rp 80 miliar.
Kedua, BI mengharuskan semua bank, baik kecil maupun besar, memenuhi persyaratan Bank Berkinerja Baik (termasuk syarat rasio permodalan).
Ketiga, BI mengharuskan perbankan yang terkena aturan kepemilikan tunggal untuk menyampaikan action plan (rencana aksi) pada akhir 2007.
Walaupun kepada pemerintah diberikan dispensasi tenggat penyampaian rencana aksi bank BUMN, realisasinya tetap diharapkan selesai pada akhir 2010 seperti yang berlaku bagi bank swasta nasional.
Apakah itu aturan kepemilikan tunggal atau biasa disebut single presence policy (SPP)? Peraturan ini mengharuskan pemegang saham pengendali tidak boleh memiliki lebih dari satu bank di Indonesia. Pemegang saham pengendali mempunyai tiga pilihan: pertama, melakukan penggabungan (merger) beberapa bank yang dimilikinya; kedua, melakukan divestasi kepemilikan ke bawah 25 persen sehingga hanya menjadi pemegang saham pengendali pada satu bank saja; atau ketiga, membentuk financial holding company (induk perusahaan keuangan). Menurut saya, pembentukan financial holding company tidak akan efektif karena jumlah bank tidak berkurang, sedangkan risiko sistemik stabilitas sistem keuangan akan meningkat.
Tampaknya ide awal dari peraturan SPP adalah ingin mengendalikan kepemilikan asing di perbankan Indonesia sekaligus mengurangi jumlah bank supaya efisien bagi BI mengawasi perbankan. Walaupun investor asing telah memperkuat struktur permodalan dan meningkatkan keahlian perbankan Indonesia, secara politis tampaknya tidak bisa ditoleransi apabila sebuah institusi asing memiliki beberapa bank di Indonesia.
Aturan SPP sebenarnya terdapat pula di Thailand. Pandangan ini mungkin terlalu nasionalis, tetapi saya bisa pahami karena di Amerika Serikat pun, perusahaan asing dilarang memiliki saham melebihi jumlah tertentu di bank-bank besar.
Namun, berhubung Indonesia terikat perjanjian internasional dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), definisi pemegang saham pengendali akhirnya tidak hanya berlaku bagi pihak asing, tetapi juga bagi pihak Indonesia, termasuk pemerintah sebagai pemilik bank BUMN. Yang anehnya, berhubung keterikatan kepada perjanjian WTO, cabang bank asing dan bank patungan tidak terkena peraturan SPP. Akibatnya, misalnya, cabang Standard Chartered Bank di Indonesia tidak harus melakukan merger dengan Bank Permata.
Bank patungan asing juga tidak perlu merger jika mereka memiliki bank nasional di Indonesia. Contohnya Bank Mitsubishi UFJ tidak perlu merger dengan Bank Nusantara Parahyangan. Dengan demikian, akhirnya yang terkena peraturan SPP hanyalah Bank Internasional Indonesia (BII)-Bank Danamon, Bank Niaga-Bank Lippo, dan bank BUMN. Tentu saja hal ini mengurangi efektivitas aturan SPP dalam menurunkan jumlah bank di Indonesia.
Temasek, perusahaan investasi milik Pemerintah Singapura, menjadi pemegang saham pengendali di Bank Danamon dan BII. Kepemilikan Temasek di BII adalah bersama-sama dengan anggota konsorsium Sorak yang di dalamnya terdapat Kookmin Bank (Korea).
Ada dua pendapat yang berkembang di kalangan analis perbankan mengenai ide merger Bank Danamon dan BII.
Pendapat yang pertama mengatakan, berhubung kinerja keuangan BII tidak sebaik Danamon, bank hasil merger akan turun valuasi sahamnya, merugikan pemegang saham. Karena itu, akan lebih baik bagi Temasek menjual kepemilikan sahamnya di BII kepada Kookmin Bank, mungkin Kookmin bersedia membeli dengan harga tinggi.
Pendapat yang kedua mengatakan bahwa merger Bank Danamon dan BII akan membentuk satu bank dengan aset sekitar Rp 80 triliun, jumlah cabang sekitar 700, menguasai dua perusahaan pembiayaan sepeda motor terbesar di Indonesia (Adira dan WOM Finance), dan bertumbuh cepat di sektor kredit mikro melalui Danamon Simpan Pinjam.
Saya cenderung lebih setuju dengan pendapat kedua. Tentu saja syaratnya Danamon membeli BII tidak terlalu mahal, dan manajemen bank hasil merger Danamon-BII harus bisa meningkatkan kinerja aset dan operasional BII dan WOM Finance. Penting juga segera diterbitkan insentif pajak untuk terwujudnya merger perbankan.
Pertarungan BUMN
Yang bakal seru adalah pertarungan bank BUMN menjadi bank konsolidator dan siapa yang bakal mengakuisisi BTN. Proses go public BTN ditunda karena masalah krusial BTN adalah mencari dukungan dana jangka panjang untuk mengembangkan kredit kepemilikan rumah (KPR) untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Walaupun sekarang sudah berlomba-lomba masuk ke KPR, bank-bank nasional belum mau masuk ke KPR untuk rumah sangat sederhana. Kalau melihat segmen bisnisnya, yaitu segmen usaha kecil (kredit ritel, mikro), tampaknya lebih cocok apabila BRI mengakuisisi BTN.
Ide Bank Mandiri dan BNI sebagai bank korporasi juga pasti akan mencuat kembali. Seperti biasa kita nanti akan dengar berbagai pendapat dari anggota DPR mengenai konsolidasi Bank BUMN karena setiap bank akan mempunyai argumentasi mengenai posisi banknya.
Saran saya, sebaiknya pemerintah dan DPR mempertimbangkan dengan baik-baik, mau dibawa ke mana bank BUMN kita. Yang menjadi tujuan seharusnya tidak hanya bank tersebut eksis, tetapi bank BUMN menjadi bank yang kuat, bank yang mempunyai kinerja keuangan terbaik di Asia Tenggara, dan yang terpenting dikelola dengan hati-hati sehingga tidak merugikan para penabung dan tidak perlu direkapitalisasi lagi oleh rakyat negara ini.
Jadi, sebelum kita membahas siapa yang mengakuisisi siapa, maka pemerintah, Bank Indonesia, dan DPR harus bisa menjawab dulu pertanyaan penting, apakah negara ini bisa menjamin bank BUMN akan selalu dikelola oleh bankir-bankir yang pruden? Bagaimana menghilangkan intervensi pejabat dan intervensi politis yang negatif dalam pengelolaan Bank BUMN?
Contohnya, Bank Mandiri saat ini dikelola oleh manajemen yang cukup berhati-hati, tetapi tidak ada jaminan bahwa hal itu akan berlangsung terus apabila terjadi pergantian manajemen di kemudian hari. Kalau kita belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan krusial itu, penggabungan bank-bank BUMN hanya akan memperbesar risiko sistemik di sistem keuangan Indonesia di kemudian hari.

Jumat, 27 Mei 2011

Inflasi Indonesia 2011

Target inflasi 5,3 persen pada 2011 dianggap sulit dicapai. Walaupun inflasi pada Februari 2011 hanya 0,13 persen yang lebih rendah daripada inflasi 0,3 persen pada Februari 2010, target 5,3 persen tetap dianggap sulit dicapai. 

Hal itu dikatakan pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono via telepon, "Target 5,3 persen mungkin, tapi peluangnya lebih rendah. Menurut saya, inflasi 2011 kira-kira 6 persen." 

Menurut Tony, sedikitnya ada empat hal yang dapat menaikkan inflasi. Pertama, harga minyak dunia yang sedang lebih dari US$100 per barel. Kedua, pembatasan BBM yang disubsidi. Ketiga, cuaca ekstrem. Keempat, distribusi barang yang kurang lancar. 

"Harga minyak dunia, semoga (Presiden Libia) Khadafi cepat turun. Jadi, harga cepat turun. Libia kan salah satu eksportir minyak. Tentang BBM subsidi, memang bisa menaikkan inflasi, tapi itu dilema. Di satu sisi, inflasi harus ditekan, tapi di sisi lain, subsidi (untuk BBM) harus dikurangi," jelas Tony. 

Tony memaparkan bahwa cuaca ekstrem juga berpengaruh karena dapat menurunkan produksi, "2010, hujan banyak. Kalau 2011 masih, itu juga mempengaruhi inflasi."

Ekologi dan Ekonomi


Banyak ekolog menghubungkan ekologi dengan ekonomi manusia:
  • Lynn Margulis mengatakan bahwa studi ekonomi bagaimana manusia membuat kehidupan. Studi ekologi bagaimana tiap binatang lainnya membuat kehidupan.
  • Mike Nickerson mengatakan bahwa "ekonomi tiga perlima ekologi" sejak ekosistem menciptakan sumber dan membuang sampah, yang mana ekonomi menganggap dilakukan "untuk bebas".
Ekonomi ekologi dan teori perkembangan manusia mencoba memisahkan pertanyaan ekonomi dengan lainnya, namun susah. Banyak orang berpikir ekonomi baru saja menjadi bagian ekologi, dan ekonomi mengabaikannya salah. "Modal alam" ialah 1 contoh 1 teori yang menggabungkan 2 hal itu.

Saham Eropa Sebagian Besar Turun Karena Data AS Mengecewakan

Pasar-pasar saham utama Eropa sebagian besar turun pada Kamis waktu setempat, setelah berita ekonomi Amerika Serikat mengecewakan dan berlanjutnya kekhawatiran tentang Yunani, meskipun London mendukung tren dan membuat kenaikan tipis.

Data AS menunjukkan ekonomi tumbuh 1,8 persen pada kuartal pertama, tidak berubah dari perkiraan awal yang telah diperkirakan pasar akan direvisi naik.

Selain itu, klaim baru pengangguran AS naik, bukan jatuh, seperti yang telah diperkirakan.

Di London, indeks FTSE 100 dari saham-saham terkemuka berakhir naik tipis 0,18 persen menjadi 5.880,99 poin. Tapi di Frankfurt, indeks DAX 30 turun 0,79 persen menjadi 7.114,09 poin sementara di Paris indeks CAC 40 turun 0,30 persen pada 3.917,22 poin.

Secara umum perdagangan tidak meyakinkan, bahkan London berada di wilayah negatif satu jam sebelum penutupan perdagangan.

Untuk Thomas Julien, ekonom Natixis, angka pertumbuhan ekonomi AS "seluruhnya mengecewakan," meskipun rebound moderat bisa mengikuti pada kuartal mendatang.

Dalam lebih banyak berita buruk dari seluruh Atlantik, Departemen Tenaga Kerja mengumumkan bahwa klaim baru pengangguran AS naik pekan lalu setelah dua minggu menurun.

Dalam menghadapi ketidakamanan ekonomi pemberi kerja, seperti di Eropa, telah enggan untuk merekrut pekerja.

"Apakah itu penyimpangan atau penurunan nyata dalam kegiatan? Terlalu dini untuk mengatakan tetapi tidak untuk ditanyakan," kata Philippe Waechter di Natixis AM Prancis.

Di London, saham penambang dan minyak terkemuka memberikan dukungan karena mereka membuat beberapa kenaikan setelah menurun awal pekan ini.

Anglo-Amerika naik 2,2 persen sementara Shell bertambah 0,94 persen.

Investor tetap prihatin atas utang Yunani di tengah ketidakpastian tentang bagaimana permasalahan kekurangan fiskal negara itu bisa diselesaikan.

Presiden Yunani Carolos Papoulias telah memanggil para pemimpin politik untuk membahas utang perekonomian nasional pada Jumat, mencari konsensus mengenai langkah penghematan pemerintah Sosialis, kantornya mengatakan.

Menurut media lokal, Papoulias menyerukan pertemuan di atas perintah Papandreou, yang telah mencoba selama beberapa hari untuk mendapatkan setidaknya dukungan minimal oposisi untuk pengerasan langkah-langkah penghematan yang telah diperkenalkan dalam upaya untuk menjinakkan pelarian utang negara.

Rencana terakhir tersebut dibuat atas permintaan Uni Eropa dan Dana Moneter Internasional yang memberi Yunani dana talangan (bailout) 110 miliar euro (155 miliar dolar AS).

Di tempat lain di Eropa, saham juga menurun dengan Milan mengalami penurunan terbesar, jatuh 0,71 persen. Brussels turun 0,57 persen dengan Lisbon turun 0,45 persen, Madrid turun 0,14 persen dan Amsterdam kehilangan 0,12 persen. Saham Swiss sedikit berubah.

Dalam perdagangan di Asia sebelumnya, sebagian besar pasar "rebound" karena "bargain hunting" setelah baru-baru ini dilanda aksi jual, sementara kenaikan pertama bagi Dow dalam tiga hari juga menyediakan beberapa dukungan.

Tokyo rally 1,48 persen, Sydney naik 1,65 persen dan Seoul melonjak 2,75 persen. Hong Kong naik 0,67 persen tapi Shanghai menyerah keuntungan awal menjadi berakhir 0,19 persen lebih rendah.

Wall Street bervariasai pada 16.15 GMT (23.15 WIB), dengan Dow Jones Industrial Average turun 0,30 persen. Indeks komposit teknologi Nasdaq naik 0,29 persen sedangkan S&P 500 turun 0,18 persen.

Perdagangan lesu, kata para dealer, karena para investor menanti liburan panjang akhir pekan. Pasar akan ditutup pada Senin untuk memperingati "Memorial Day", demikian AFP melaporkan.

Ekonomi Amerika serikat 2011


Krisis finansial yang melanda Amerika Serikat dua tahun lalu masih jauh dari pemulihan. Pertumbuhan pada kuartal ketiga yang sebesar 2,5 persen memang lebih tinggi dari perkiraan, namun tingkat pengangguran masih 9,6 persen.
Melihat kondisi itu, bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserves, terpaksa melakukan langkah radikal kemarin dengan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi 2011 dari 3,5-4,2 persen menjadi 3-3,6 persen. 

Tingkat pengangguran akan tetap di level 9 persen dan berada di atas 8 persen sampai akhir 2012. Keputusan ini dibuat setelah Fed mengumumkan rencana untuk membeli surat utang negaranya sampai US$ 600 miliar dalam rangka meningkatkan pertumbuhan.

Tapi rupanya tidak semua pejabat Fed percaya pembelian surat utang akan menaikkan pertumbuhan ekonomi. Bahkan beberapa di antara mereka menilai langkah ini hanya akan menyebabkan sistem perbankan rentan inflasi. 

"Sangat mengejutkan melihat bagaimana Fed terpecah," kata ekonom senior dari Bank Wells Fargo, Mark Vitner. "Jelas terlihat keputusan ini digulirkan oleh Ben Bernanke (Gubernur Federal Reserves)."

Pemangkasan pertumbuhan ekonomi Amerika tidak terlalu berdampak pada pergerakan bursa regional Asia dan Eropa kemarin. Harga saham di dua benua itu tidak terlalu bergerak, meskipun ada kekhawatiran soal dampak perang antara Korea Utara dan Korea Selatan. 

Banyak pelaku pasar mulai bergerak ke investasi yang lebih aman, seperti emas dan surat utang pemerintah Jepang. Nilai tukar euro bergerak dari level enam pekan terendahnya, namun masih dalam tren lemah di tengah rencana pemberian dana talangan untuk masalah utang Irlandia.

Nilai mata uang Korea Selatan, won, naik 0,5 persen setelah terjadi konflik di Semenanjung Korea. Harga saham dan obligasi berjangkanya naik, yang mengindikasikan investor jangka panjang melihat kesempatan untuk mengambil cepat dan murah. Indeks acuan Korea Selatan, Kospi, ditutup turun 0,2 persen.

Ekonomi dan Ekosistem

Maret 1978 suatu pagi. Emil Salim menerima telepon dari ajudan Presiden Soeharto. Dia diminta menemui presiden di Pelabuhan Tanjung Priok. Emil Salim segera meluncur. Setibanya, dia dibawa masuk ke dalam kapal motor. Soeharto sudah menunggu.

“Dahulu saya suka memancing di teluk Jakarta, tapi sekarang terpaksa harus lebih ke dalam Selat Sunda menjauhi Jakarta,” ujar Soeharto.

“Cobalah lihat,” Soeharto menunjuk pekat dan hitamnya air laut yang dijejali sampah, kotoran dan buangan minyak, “pembangunan baru berjalan sepuluh tahun, tetapi sampah dan limbah sudah membunuh ikan-ikan di laut. Bagaimana nanti kalau kita mulai membangun industri? Akan musnahkah kehidupan lautan kita?”

“Saya meminta jij [“anda” dalam bahasa Belanda] membantu saya menangani lingkungan hidup, mencegah jangan sampai alam kita rusak. Kita harus wujudkan pembangunan tanpa merusak lingkungan.”

“Saya ekonom, Pak. Saya mengerti sedikit tentang ekonomi. Tapi tentang lingkungan ekologi saya tidak paham,” ujar Emil Salim.

Soeharto lalu bercerita dengan serius.

“Dulu di masa kecil saya suka bermain di hutan Wonosari yang masih penuh dengan monyet, ular dan pepohonan. Kini hutan itu sudah gundul. Dulu saya suka mandi dan membersihkan kerbau di sungai yang jernih. Kini sungai itu sudah kotor dan berwarna coklat. Kampung kini sudah rusak lingkungannya sedangkan pembangunan belum seberapa. Dan masih banyak yang harus kita bangun. Tugasmu mengembangkan pola pembangunan tanpa merusak lingkungan. Lagipula bukankah ekonomi berbicara tentang rumahtangga manusia dan ekologi tentang rumahtangga alam?” ujar Soeharto meyakinkan.

Mendengar cerita itu Emil Salim tak berdaya untuk menolak. Jadilah dia Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup.

Perkenalan pertama Emil Salim dengan isu lingkungan hidup bermula ketika Juni 1972 Soeharto menugaskannya memimpin delegasi Indonesia untuk menghadiri Konferensi Lingkungan Hidup Sedunia (UNCHE) pertama di Stockholm, Swedia. Tapi pekerjaan kali ini jelas lebih pelik dan rumit. Pesan Soeharto untuk “merencanakan pembangunan tanpa merusak lingkungan” bukanlah perkara mudah. Dalam benak Emil Salim, pembangunan suatu negara berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi rakyat. Dalam proses itu moda sarana teknologi pembangunan sering mengorbankan sisi ekologi dan kelestarian alam. Ibarat buah simalakama, Emil Salim dihadapkan pada persoalan dilematis.

Lama Emil Salim merenungi cara yang harus dia tempuh. Akhirnya dia teringat diskusi dengan Perdana Menteri India Indira Gandhi dalam konferensi UNCHE. Kunci persoalannya bukanlah mempertentangkan pelestarian lingkungan dengan pembangunan, tapi mengedepankan pembangunan yang selaras dan bersinergi dengan kelestarian lingkungan dan kemanusiaan.

Emil Salim tak menafikan dampak buruk pembangunan terhadap lingkungan. Dalam tulisan berjudul “Mengapa Analisis Dampak Lingkungan”, dia menekankan pentingnya Analisis Dampak Lingkungan (Andal) sebelum memulai program pembangunan. Tujuannya, “membantu pengusaha memilih teknologi dan cara produksi yang bisa memperkecil dampak negatif kepada lingkungan.”

Sementara gagasannya tentang pembangunan yang berpihak pada kemanusiaan tampak dalam tulisan “Pertambangan dalam Keberlanjutan Pembangunan”. Emil Salim mengkritik pola ekspolitasi pertambangan yang tak mengindahkan keberadaan masyarakat adat. Akibatnya, muncul dendam di hati masyarakat kepada negara dan perusahaan tambang.

Isu kerusakan lingkungan yang berujung pada pemanasan global menjadi perhatian serius semua negara. Persoalannya, semangat untuk memperbaiki kondisi alam seringkali melibatkan tarik-menarik kepentingan ekonomi dan politik. Hal ini tercermin dalam pertemuan Badan Dunia untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Kopenhagen, Denmark, pada Desember 2009. Para peserta sulit mencapai kata sepakat dalam menetapkan ambang batas produksi karbon dioksida masing-masing negara. Negara maju menuntut negara-negara berkembang seperti China, India, dan Brasil diperlakukan sama dalam menurunkan gas rumah kaca (GRK). Jika tidak, mereka enggan melakukannya.

Padahal, memasuki tahun 2008, kepadatan GRK di bumi mencapai 380 parts per million(ppm) dari 280 ppm sebelum Revolusi Industri (1780). Untuk mencegah peningkatan suhu bumi di atas 2 derajat celcius, pengendalian emisi karbon harus diupayakan berada pada 450 ppm.

Saking kesalnya, Presiden Maldives secara demonstratif memimpin sidang kabinet di bawah laut. Sedangkan Kabinet Pemerintah Nepal bersidang di puncak Mount Everest sambil memakai masker oksigen.

Indonesia menghadapi tantangan yang jelas. Jika suhu bumi melampaui 2 derajat celcius, Indonesia yang terletak di zona khatulistiwa akan terkena dampaknya. Permukaan air laut akan naik, yang bisa menenggelamkan ratusan pulau, banjir, angin taufan, musim kemarau panjang, evaporasi air tawar di permukaan, erosi keanekaragaman hayati, meluasnya kebakaran hutan, serta merebaknya penyakit baru pada hewan dan manusia. Karena itu apa pun yang diperdebatkan di forum internasional, Indonesia harus sudah melangkah melewati tahap perdebatan dan menggalang kesepakatan dengan negara-negara sahabat untuk menanggapi tantangan perubahan iklim.

Pemerintah Indonesia terlibat aktif dalam berbagai forum lingkungan hidup internasional, di KTT Bumi Rio de Jeneiro, Brazil, maupun konvensi perubahan iklim yang termaktub dalam Protokol Kyoto Jepang, 1994. Pada 2007 Indonesia bahkan menjadi tuan rumah konferensi perubahan iklim dunia di Bali.

Pelestarian lingkungan diperlukan demi keberlangsungan hidup generasi mendatang. Di sinilah peranan pemuda. Menurut Emil Salim para pemuda perlu dibawa ke tingkat penghayatan lingkungan dengan memperkenalkan mereka pada berbagai masalah lingkungan hidup sekaligus melibatkan dan memberikan kepercayaan untuk mencari solusi pemecahan.

Ada banyak cara nyata dan sederhana guna mencegah meningkatnya pemanasan global. Antara lain menghemat penggunaan BBM dan konsumsi air bersih, tak membuang sampah nonorganik sembarangan, dan menghemat penggunaan listrik.

Terhitung sejak 1978 hingga 1993 Emil Salim menempati posisi sebagai menteri yang bertanggungjawab terhadap persoalan lingkungan hidup. Selama satu dekade lebih menjabat posisi itu, kiprah Emil Salim dalam pelestarian lingkungan hidup di kancah nasional maupun internasional tak perlu diragukan lagi. Sayangnya, dari 38 gagasan tentang lingkungan dalam buku ini, hanya tiga tulisan yang dia tulis saat menjabat sebagai menteri. Alhasil tak terlihat jelas apa saja bentuk nyata dari kebijakannya.

Betapapun semangat Emil Salim dan kecintaannya pada lingkungan hidup patut dihargai dan diteladani. Bukan untuk dia, tapi untuk bumi yang kita diami.